Aku tahu bahwa diriku adalah manusia. Sosok mahluk hidup yang
mampu berpikir, mempunyai kesadaran dalam bertindak dan melakukan perbuatan di
dalam kehidupannya. Aku tahu bahwa aku berasal dari perpaduan sel hidup dari
kedua orangtuaku dan dengan kuasa-Nya lah aku tercipta, terlahir, hidup di dunia.
Tapi aku masih memiliki sedikit keraguan tentang apa yang sebenarnya aku cari
di dalam hidup ini. Tentang prioritas di dalam kehidupan.
Saat balita, aku bebas bermain. Melakukan kesenangan dan bebas
bersuka ria karena di dalam pikiranku belum aktif program-program yang rumit.
Kala aku lelah, aku tidur tanpa memikirkan apa yang aku akan lakukan setelah
terbangun nanti. Begitu sederhana dan tanpa beban. Lingkungan masa aku balita
masih kuingat terasa begitu nyaman dan damai.
Masa sekolah
dasar. Aku tergolong anak yang terlambat masuk
sekolah. Pada umumnya anak seusiaku sudah berada di kelas dua, agak terasa lain
berada di lingkungan anak-anak yang usianya satu tahun lebih muda dari kita.
Walaupun semenjak lulus SD, hal ini bukanlah masalah lagi bagiku.
Hingga saat kelulusan, teman-teman menganggapku sebagai anak yang pintar
dan tak terkejar dalam hal prestasi belajar. Setidaknya kubuktikan bahwa aku
mampu mendapatkan nilai sempurna ketika evaluasi
belajar tahap
akhir nasional
pada mata pelajaran matematika. Tentu saja dengan mengerjakan seluruh soal
tanpa ada kesalahan. Memang membanggakan.
Begitu masuk sekolah
lanjutan tingkat
pertama, aku baru
merasakan situasi belajar yang mulai diwarnai persaingan dan situasi kompetitif.
Tiap murid menginginkan untuk menjadi juara kelas. Bahkan aku mulai tahu bahwa
untuk mendapatkan hal tersebut, murid dapat berbuat tidak jujur. Mencontek dan
menyalin jawaban benar dari murid lain kadang menghasilkan nilai yang lebih
tinggi dari pada menggunakan murni kemampuan daya pikir sendiri.
Aku mulai tersisih dari posisi juara. Walaupun kedua orangtuaku
terus menyemangati untuk belajar terus lebih giat dan tidak menyerah, kadang
aku terbentur dengan kenyataan yang dipenuhi faktor yang waktu itu agak sukar
untuk kumengerti. Ada seorang temanku yang kebetulan ayahnya adalah seorang
guru matematika di sekolah kami. Temanku itu begitu beruntung, pikirku. Pasti
setiap malam hari saat menjelang istirahat dia mendapat pelajaran tambahan
dari ayahnya, makanya dia bisa sukses selalu menjadi juara kelas. Untung saja
aku cuma merasakan satu tahun sekelas dengannya, sebab aku kadang merasa kurang
nyaman kalau prestasi belajarku terkalahkan oleh seorang wanita.
Sampai tiba waktu kelulusan SLTP,
dia selalu menjadi juara di kelasnya. Bahkan dia berhasil menjadi juara umum
dengan nilai ujian akhir tertinggi di angkatan kami, di antara lebih kurang
250 orang murid. Konon nilainya pun juga berada di posisi nomor dua tertinggi
sekabupaten. Selamat yaa. :)
Angkatan kami memang kebetulan agak lain dari angkatan
sebelum-sebelumnya. Umumnya setelah kelulusan, murid merayakannya dengan pergi
tamasya bersama ke luar kota, bersenang-senang, mengunjungi tempat rekreasi
dan bersuka cita di sana. Tapi ketua organisasi
siswa intra
sekolah kami ternyata berpikir selangkah lebih maju,
setidaknya menurutku. Dia berusaha menekan angka ongkos biaya perpisahan
seminimal mungkin dengan efisiensi tinggi agar tidak menambah beban orang tua
kami. Tentu saja pihak sekolah agak keberatan. Sebab kalau cita-cita mulia itu
disepakati, maka seluruh peserta rekreasi akan ikut menanggung biaya yang sama
dengan para murid yang baru saja lulus, tanpa terkecuali. Dan setahuku, selama
ini hanya para murid yang dikenakan biaya bahkan termasuk para adik kelas.
Sedangkan kepala sekolah, guru, para staff pengajar beserta keluarganya yang
turut serta biasanya tidak perlu mengeluarkan ongkos karena sudah
tersubsidi oleh kita-kita. Kata mereka, "Kami kan sudah bersusah payah
berpikir dan melakukan segalanya untuk kalian..." Sungguh tidaklah adil dan
memberi kesan hanya menguntungkan kepentingan sepihak.
Setelah terjadi negosiasi yang cukup alot antara perwakilan
pihak murid yang dipimpin oleh sang ketua OSIS dengan beberapa pengajar sebagai
perwakilan pihak sekolah. Akhirnya diambillah jalan tengah, yaitu untuk tahun ini
tidak diadakan acara rekreasi perayaan kelulusan ke luar kota. Pembagian
ijasah dan surat-surat kelulusan dilakukan pada upacara sederhana yang mirip
dengan upacara bendera tiap hari senin dan diadakan di lapangan yang masih
berada di dalam lingkungan sekolah kami tentunya.
Memang sih tidak ada kesan khusus, tidak ada photo di air
terjun, tidak ada photo di pantai. Tapi setidaknya kami punya sikap. Kami
punya ide dan telah berusaha berjuang untuk mewujudkannya. Konon kabarnya,
ketua OSIS kami itu kini aktif di organisasi kemasyarakatan yang memperjuangkan
keadilan. Jangan menyerah kawan, aku berharap kelak dapat berjalan bersamamu
memperjuangkan cita-cita luhur demi tegaknya keadilan yang berperikemanusiaan.
kilas rasa: untuk kedua orang tuaku, terima kasih atas segalanya... teruntuk papa yang hari ini genap berusia setengah abad... semoga kesehatan dan kemapanan selalu bersama kita... untuk seseorang yang baru lebih kurang 3 minggu kukenal, tiada kata yang mampu me-representasi-kan perasaanku kepadamu, terima kasih atas harapan yang semakin jelas kulihat...
<< Home