<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Sunday, August 10, 2003

saatnya
curhat

WAjib belaJAR 9 tahun
(1980, 1987-1993)

:: masa balita dan menjelang remaja ::

Aku tahu bahwa diriku adalah manusia. Sosok mahluk hidup yang mampu berpikir, mempunyai kesadaran dalam bertindak dan melakukan perbuatan di dalam kehidupannya. Aku tahu bahwa aku berasal dari perpaduan sel hidup dari kedua orangtuaku dan dengan kuasa-Nya lah aku tercipta, terlahir, hidup di dunia. Tapi aku masih memiliki sedikit keraguan tentang apa yang sebenarnya aku cari di dalam hidup ini. Tentang prioritas di dalam kehidupan.

Saat balita, aku bebas bermain. Melakukan kesenangan dan bebas bersuka ria karena di dalam pikiranku belum aktif program-program yang rumit. Kala aku lelah, aku tidur tanpa memikirkan apa yang aku akan lakukan setelah terbangun nanti. Begitu sederhana dan tanpa beban. Lingkungan masa aku balita masih kuingat terasa begitu nyaman dan damai.

Masa sekolah dasar. Aku tergolong anak yang terlambat masuk sekolah. Pada umumnya anak seusiaku sudah berada di kelas dua, agak terasa lain berada di lingkungan anak-anak yang usianya satu tahun lebih muda dari kita. Walaupun semenjak lulus SD, hal ini bukanlah masalah lagi bagiku. Hingga saat kelulusan, teman-teman menganggapku sebagai anak yang pintar dan tak terkejar dalam hal prestasi belajar. Setidaknya kubuktikan bahwa aku mampu mendapatkan nilai sempurna ketika evaluasi belajar tahap akhir nasional pada mata pelajaran matematika. Tentu saja dengan mengerjakan seluruh soal tanpa ada kesalahan. Memang membanggakan.

Begitu masuk sekolah lanjutan tingkat pertama, aku baru merasakan situasi belajar yang mulai diwarnai persaingan dan situasi kompetitif. Tiap murid menginginkan untuk menjadi juara kelas. Bahkan aku mulai tahu bahwa untuk mendapatkan hal tersebut, murid dapat berbuat tidak jujur. Mencontek dan menyalin jawaban benar dari murid lain kadang menghasilkan nilai yang lebih tinggi dari pada menggunakan murni kemampuan daya pikir sendiri.

Aku mulai tersisih dari posisi juara. Walaupun kedua orangtuaku terus menyemangati untuk belajar terus lebih giat dan tidak menyerah, kadang aku terbentur dengan kenyataan yang dipenuhi faktor yang waktu itu agak sukar untuk kumengerti. Ada seorang temanku yang kebetulan ayahnya adalah seorang guru matematika di sekolah kami. Temanku itu begitu beruntung, pikirku. Pasti setiap malam hari saat menjelang istirahat dia mendapat pelajaran tambahan dari ayahnya, makanya dia bisa sukses selalu menjadi juara kelas. Untung saja aku cuma merasakan satu tahun sekelas dengannya, sebab aku kadang merasa kurang nyaman kalau prestasi belajarku terkalahkan oleh seorang wanita.

Sampai tiba waktu kelulusan SLTP, dia selalu menjadi juara di kelasnya. Bahkan dia berhasil menjadi juara umum dengan nilai ujian akhir tertinggi di angkatan kami, di antara lebih kurang 250 orang murid. Konon nilainya pun juga berada di posisi nomor dua tertinggi sekabupaten. Selamat yaa. :)

Angkatan kami memang kebetulan agak lain dari angkatan sebelum-sebelumnya. Umumnya setelah kelulusan, murid merayakannya dengan pergi tamasya bersama ke luar kota, bersenang-senang, mengunjungi tempat rekreasi dan bersuka cita di sana. Tapi ketua organisasi siswa intra sekolah kami ternyata berpikir selangkah lebih maju, setidaknya menurutku. Dia berusaha menekan angka ongkos biaya perpisahan seminimal mungkin dengan efisiensi tinggi agar tidak menambah beban orang tua kami. Tentu saja pihak sekolah agak keberatan. Sebab kalau cita-cita mulia itu disepakati, maka seluruh peserta rekreasi akan ikut menanggung biaya yang sama dengan para murid yang baru saja lulus, tanpa terkecuali. Dan setahuku, selama ini hanya para murid yang dikenakan biaya bahkan termasuk para adik kelas. Sedangkan kepala sekolah, guru, para staff pengajar beserta keluarganya yang turut serta biasanya tidak perlu mengeluarkan ongkos karena sudah tersubsidi oleh kita-kita. Kata mereka, "Kami kan sudah bersusah payah berpikir dan melakukan segalanya untuk kalian..." Sungguh tidaklah adil dan memberi kesan hanya menguntungkan kepentingan sepihak.

Setelah terjadi negosiasi yang cukup alot antara perwakilan pihak murid yang dipimpin oleh sang ketua OSIS dengan beberapa pengajar sebagai perwakilan pihak sekolah. Akhirnya diambillah jalan tengah, yaitu untuk tahun ini tidak diadakan acara rekreasi perayaan kelulusan ke luar kota. Pembagian ijasah dan surat-surat kelulusan dilakukan pada upacara sederhana yang mirip dengan upacara bendera tiap hari senin dan diadakan di lapangan yang masih berada di dalam lingkungan sekolah kami tentunya.

Memang sih tidak ada kesan khusus, tidak ada photo di air terjun, tidak ada photo di pantai. Tapi setidaknya kami punya sikap. Kami punya ide dan telah berusaha berjuang untuk mewujudkannya. Konon kabarnya, ketua OSIS kami itu kini aktif di organisasi kemasyarakatan yang memperjuangkan keadilan. Jangan menyerah kawan, aku berharap kelak dapat berjalan bersamamu memperjuangkan cita-cita luhur demi tegaknya keadilan yang berperikemanusiaan.

kilas rasa: untuk kedua orang tuaku, terima kasih atas segalanya... teruntuk papa yang hari ini genap berusia setengah abad... semoga kesehatan dan kemapanan selalu bersama kita... untuk seseorang yang baru lebih kurang 3 minggu kukenal, tiada kata yang mampu me-representasi-kan perasaanku kepadamu, terima kasih atas harapan yang semakin jelas kulihat...

published by: RaKa Mardika @ 10.8.03

Berbagi rasa, berbagi suka, berbagi ide dan pengalaman

.: is this rha-k's webLOG? :.

Previous post: Today Thanks... saatnyacur-hat... ? blog-tech ?... Today Thanks... saatnyacur-hat... :: senyum ::... Tips of Life... Today Thanks... saatnyacurhat... Today Thanks...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang