<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Monday, March 22, 2004

karena tidak semuanya adalah karunia

Sebuah Persembahan untuk
'Satria Pilih Tanding'
dari
'Kawan Lama'

Hidup ini nda lepas dari peran serta Yang Maha Kuasa. Semua kejadian, semua peristiwa, semua hal selalu saja ada kaitannya dengan DIA. Mungkin karena sebagian besar penduduk bumi ini percaya pada adanya TUHAN. Saya bukan atheis. Anda? Saya nda yakin betul anda sama seperti saya, tetapi saya berharap demikian karena tulisan ini khusus untuk yang no-atheis.

Setiap saya punya kejadian, selalu saya kaitkan dengan TUHAN. Kemaren saya telat masuk kantor gara2 nunggu bus yang biasanya cuman 15 menit, telat sampe 1 jam. Ngedumel juga, akhirnya. Hati saya waktu itu, berkata, “wah... GustiALLOH iki opo maksute sampe tega biarin aku nunggu bis, trus kepanasan, kesel dan telat sampe kantor...” Anda mau bercanda? Bolehlah. Bilang saja gini, “kalo Mas berkata dalam hati gitu, mungkin para Malaikat juga akan berkata dalam hati mereka, ‘Siapa Loe?’...” Bener juga sih. Bisa jadi malaikat juga mencemooh saya karena sepertinya saya menyalahkan TUHAN. Tapi sejatinya, saya ingin menegaskan bahwa itulah tabiat bawaan manusia, selalu mengkaitkan semua hal dengan SESUATU yang ghoib yang diyakini punya kekuatan lebih besar. Ya, itulah TUHAN.

Manusia memang seharusnya tidak atheis. Karena pada dasarnya kecenderungan manusia mengakui adanya kekuatan besar di luar dirinya, sangat kuat. Tapi nda apa-apa kalo ada di antara kita yang atheis. Nda papa kok. Nda ada paksaan dalam ajaran TUHAN. Dalam Al Qu’ran 2:256 persis diterangkan demikian.

Kembali lagi, sering juga manusia mengkaitkan sesuatu yang dimilikinya dengan TUHAN. Seperti yang adiknya Inul bilang tentang ketenaran sang kakak sebagai selebritis Indonesia, “Alhamdulillah banget. Ini kan karunia TUHAN pada Inul. Mudah2an bisa disyukuri..” Atau pernah denger ungkapan artis yang sering jadi foto model seronok ketika dia dikritik karena kerap ber-‘seronok’ ria, “Tubuh saya kan karunia TUHAN, harus disyukuri dong..”

Itu hanya sekedar contoh bagaimana mereka pun mengakui dengan tulus bahwa memang dalam hidupnya TUHAN berperan. Sebagai Pemberi, tentunya. Bukan Peminta. Ya, TUHAN adalah sang Pemberi.

Benarkah TUHAN adalah Sang Pemberi? Jawabnya, ABSOLUTELY YES. Kenapa? Karena memang pemberian dan anugerahNYA banyak sekali. Fasilitas kehidupan (bumi, air, udara, matahari dsb), tubuh yang sempurna (hidung, mata, kaki, dsb), dan seterusnya. Anda yang non-Atheis tentu setuju dengan saya bahwa karuniaNYA banyak sekali.

Namun dari sekian banyaknya pemberian dan anugerah TUHAN tsb ada beberapa yang memang KHUSUS. Anda pernah dengar cerita Adam-Hawa? Dalam salah satu babak-nya, konon TUHAN mempersilahkan Adam dan Hawa makan apa saja kecuali buah Khuldi. Ternyata di antara sekian banyak pemberian dan anugerah buah2an dari TUHAN di surga, satu buah ada yang KHUSUS untuk tidak boleh dimakan, buah Khuldi. Dalam ajaran agama pun akan selalu kita mendapati ke-KHUSUS-an seperti halnya kisah Adam-Hawa tsb. Minum apa saja boleh bagi Muslim, kecuali arak. Arak adalah ke-KHUSUS-an itu. Demikian juga dalam hal Makan. Hal itu menunjukan bahwa memang ada hal2 KHUSUS (dalam jumlah yang sedikit tentunya) di antara sekian banyak pemberian dan anugerah TUHAN.

Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa ada yang khusus? Untuk pertanyaan ini akan ada diskusi panjang dan melelahkan. Perlu banyak referensi dan tentunya kita harus membahas kasus demi kasus. Tidak bisa disamakan alasan KHUSUS-nya buah khuldi, dengan KHUSUS-nya arak. Terpenting bagi kita, hemat saya, adalah bagaimana kita pun mengikuti keinginan-NYA untuk juga meng-khusus-kan yang KHUSUS itu. Khusus untuk arak, ya nda usah diminum. Begitulah kira2nya.

Kenapa demikian? Seperti halnya kita mengakui keberdaanNYA yang punya kekuatan besar di luar kekuatan kita, maka hendaknya kita mengikuti keinginanNYA tentang hal yang KHUSUS tersebut. Hubungannya? Patuhnya kita terhadap keinginan TUHAN adalah salah satu manifestasi dari pengakuan itu tadi. TUHAN kok punya keinginan? Berarti selain sebagai Pemberi, TUHAN juga Peminta dong? Nda dong. Tuhan cuman punya keinginan. BUKAN permintaan. Kok? Ya, karena DIA tidak pernah memaksa hambaNya menuruti keinginanNYA. Lihat lagi Al-Qur’an 2:256 yang pernah saya sebut di awal.

Yang kemudian harusnya anda dan saya lakukan setelah paham dengan adanya sesuatu yang KHUSUS dari banyaknya pemberian dan anugerah TUHAN, adalah membuat list tentang apa saja yang di-KHUSUS-kan oleh TUHAN. Arak, Babi, Riba, terus apalagi.. Kalo kita mau belajar dengan penuh ketulusan menerima pelajaran, maka ternyata masih banyak hal KHUSUS yang lain. Tetapi TENTUNYA lebih sedikit dari banyaknya hal yang NDA KHUSUS alias yang UMUM alias yang BOLEH.

Sebut saja Menikah. TUHAN bilang, menikahlah kamu (lelaki atau perempuan) dengan siapa saja (perempuan atau lelaki) asalkan jangan yang MUSYRIK. Asalkan jangan dengan yang KAFIR. Menikah adalah pemberian dan anugerah bagi manusia. Sampe2 dibolehkan bahkan diperintahkan untuk menikahi 4, 3 atau 2 wanita bagi lelaki. Namun ada yang KHUSUS dari menikah. Yang KAFIR, yang MUSYRIK adalah yang KHUSUS. Siapa mereka? Saya nda ingin melebarkan sayap tulisan ini, karena saya yakin Anda pun nda terlalu awam dengan pengertian tersebut.

Hal lain lagi, TUHAN bilang, cintailah manusia. Berkasih sayanglah dengan manusia. Siapa saja. Silahkan. Asalkan bukan dengan orang KAFIR. Cinta adalah hal universal yang bisa hinggap dalam hati manusia kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Karena cinta adalah urusan hati dan yang membolak-balikan hati adalah TUHAN. Maka kemudian cinta seperti hal yang uncontrollable (nda bisa dikontrol). Cinta adalah pemberian dan anugerah yang besar bagi manusia. Karena dengan cinta perdamaian bisa terwujudkan dan karena dasar cinta pula muncul orang2 humanis. Tapi nda semua anugerah rasa cinta itu adalah ‘karunia’. Karena memang ada cinta yang terlarang. Ada cinta yang KHUSUS.

Agak panjang kita bicara soal cinta ini. Karena cinta adalah topik menarik. Kenapa TUHAN juga menganugerahkan cinta pada hati kita? Padahal mungkin cinta tersebut terlarang untuk tumbuh dan berkembang. Misalkan ternyata kita mencintai orang KAFIR. Cinta banget. Itu kan ULAH (maaf saya pakai bahasa agak ‘kasar’) TUHAN juga? Kalo toh nda boleh dimakan, mbok yo jangan kasih makanan. Begitulah kira2 permisalannya. Ya, kan? Bener toh? Kalo nda boleh mencintai kenapa kita dianugerahi (dikasih) perasaan cinta? Inilah yang ingin saya ambil sebagai judul tulisan ini. KARENA TIDAK SEMUANYA ADALAH KARUNIA. Ada kalanya pemberian dan anugerah itu adalah ujian. Dan dengan bekal pengetahuan dan ilmu serta kelengkapan karunia TUHAN lainnya pada kita, diharapkan kita tidak salah dalam menyikapi semua pemberian dan anugerahNYA. Ujian apaan? Ujian untuk membuktikan bahwa kita memang mengakui keberadaanNYA. Bukankah hanya mereka yang mengakui keberadaanNYA (baca: meng-esa-kan TUHAN) yang dijanjikan kebahagiaan sejati? Dan Satu hal yang harus kita yakini adalah bahwa TUHAN tak pernah menghendaki kesengsaraan bagi manusia walaupun DIA tak pernah juga memaksakan manusia menjadi bahagia dengan cara menuruti semua keinginanNYA.

Hal KHUSUS lainnya masih ada. Dua kasus di atas sengaja saya suguhkan hanya sebagai contoh dari beberapa ke-KHUSUS-an lainnya. Dalam hubungan suami istri misalnya. Atau dalam kita berpakaian, berkata, berkelakuan terhadap manusia, binatang, tumbuhan dan sebagainya. Telitilah apakah memang ada hal KHUSUS. Dan akhirnya, mari kita sama2 mencari, mempelajari dan menerima pelajaran tersebut dengan tulus. Karena saya pun masih belum bulet betul pengetahuannya. Bagaimana dengan Anda? Mungkin nda jauh beda dengan saya. Salam buat orang2 yang anda sayangi.

Jakarta, 12 Maret 2004
Menjelang sholat Jum'at, redaksi: MS

published by: RaKa Mardika @ 22.3.04

Sunday, March 07, 2004

p a n i k

Assalamu'alaikum kawan, apa kabarmu? Istri dan anak sehat kan? Yang belum punya istri dan anak, nda usah merasa tidak diperhatikan. Aku hanya menegaskan bahwa aku ingin menyapa kalian dengan se-hangat2nya. Kabar orang tua di rumah, baik juga kan?

Kawan, lama juga kita nda saling becanda. Aku kadang menikmati sekali saat kita sama2 membuka lebar2 mulut kita, tertawa lebar dan lepas. Biarpun kita sama2 tahu kalo kita sedang punya masalah dan persoalan.

Hh.. hidup memang tak pernah lepas dari masalah, kawan. Masalah ini selesai, datang lagi masalah baru. Atau kadang masalah satu belum selesai, menyusul kemudian masalah baru. Masalah demi masalah mengisi hidup. Banyak efeknya. Ada yang stress, ada yang bunuh diri, ada yang berubah menjadi pendiam, ada yang menjadi jahat, ada yang bertambah bijak, ada yang... ya... macam2 lah. Tapi sekali lagi, tanpa bermaksud menggaramai lautan, aku ingin kita, hendaknya, semakin paham bahwa hidup adalah masalah.

Tentu sebagian dari kita akan bertanya, "So, what's the solution?", "Apa solusinya?", "Gimana pemecahannya?", "Piye?", "Kumaha?"

Aku juga bertanya demikian. Pernah aku dikasih jawabannya oleh seorang kawan berhaluan sosialis: HIDUP ADALAH PERSOALAN, DAN MATI ADALAH SOLUSINYA! Wuih... serem-nya Rek! MATI is the solution? Mungkin ya, mungkin juga nda. Kalian tentu akan tersenyum kenapa aku bilang "Mungkin ya, mungkin juga nda". Karena aku belum pernah membuktikan bahwa Mati adalah solusi dari masalah. Kenapa? Wong aku belum pernah mati kok. Gimana aku bisa setuju dengan pendapat kawan sosialis itu.

Lalu gimana? Nah, aku pernah dapet juga jawaban dari seorang kawan lama, "SOLUSI TERHADAP MASALAH ADALAH JANGAN PERNAH MERASA TAKUT DENGAN MASALAH TERSEBUT. HADAPI SAJA." Wah... wah... idealisme yang meyakinkan! Mungkin juga ada benernya. Diam2 aku mencobanya, kawan. Bentar aku mo cerita ya... Itung2 bagi pengalaman lah... Gini, pernah aku lapar sekali dan kebetulan nda ada uang. Lapar sekali. Dah kucari di setiap saku celana dan bajuku, nda ada duit sepeser pun. Stress! Aku inget nasehat kawan lama itu. "Jangan pernah takut dengan masalah". Ya, akhirnya aku bulatkan tekad, pokoknya aku nda mau stress gara2 lapar. Aku nda mau takut sama lapar. Aku berani hadapi lapar. Satu jam, dua jam, masih kuat. 5 jam kemudian aku lemes, nda bisa apa2. Wah... ternyata "nda takut" saja rupanya nda bisa mengubah lapar jadi kenyang. Aku baru mengerti kalo pendapat kawan lamaku nda seratus persen bener. Mungkin juga seratus persen salah. Wong buktinya aku tetep lapar, nda bisa kenyang. Biarpun aku sudah berani menghadapi lapar.

Kalian punya pengalaman nda soal kelaparan? Dulu sering sekali kita bicarakan Ethiopia saat kita makan bersama, habis tahlilan.. Inget nda? Ya, Ethiopia yang kelaparan. Dan kita yang ikut 'prihatin' dengan cara 'ngobrolin' mereka pada saat kita makan dengan lahapnya. Ironis sekali ya? Balik lagi, kawan. Solusinya apa dong? Apa ya...

Ada lagi yang pernah bilang sama aku, solusi menghadapi masalah adalah "DIAM dan KERJA". Aku garuk2 kepala waktu itu. Opo maksute? Iya, "kamu jangan panik dan berusahalah menyelesaikan masalahnya, BUKAN MENYELESAIKAN PANIKNYA" katanya. Oooo, bener juga sih. Kadang memang bener energi kita malah lebih terfokus untuk menyelesaikan paniknya dari pada menyelesaikan masalah itu sendiri. Wuih aku mulai setudju dengan pendapat ini. Kalian setudju nda kawan? Ah... biarkan saja lah ya. Kita tak perlu quorum untuk menyetujui pendapat seorang kawanku itu.

Tapi, bentar dulu kawan. Aku lebih tertarik kalimat terakhirnya. "BUKAN MENYELESAIKAN PANIKNYA" Bener juga dia. Kadang biasa terjadi, berat masalahnya cuman 10 kg, ehh... paniknya sampe 100 kg. Padahal panik itu kan hasil dari masalah. Kok malah ga keruan mana yang inti, mana yang accessories. Wah... wah... gendeng kali ya yang punya masalah. Si Dolopoh, kata keponakanku.

Dan kemudian memang kita sama2 menyaksikan sekarang bermunculan Suggestor2. Sebut saja Gede Prama, Anand Krisna, Aa Gym, Nurcahyo, dan masih banyak lagi. Tugas mereka sederhana, bukan untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi tetapi untuk mengobati PANIK saja. Kalimat ini bukan untuk merendahkan ke-PIAWAI-an mereka yang notabene telah menjadi public figure (baca: Artis), tetapi lebih ditekankan pada kebodohan (maaf lho...) kita ketika menjadikan PANIK sebagai inti masalah dan masalah itu sendiri malah menjadi sekedar accessories. Ironis lagi kali ya? Sama seperti ketika kita turut prihatin dengan rakyat Ethiopia hanya dengan ngobrolin mereka sambil makan.

Panjang lebar aku ngobrol dengan kawanku itu. Aku terkesan dengan kata PANIK yang ia pilih. Sederhana, mengena, lugu, murah, dan ya... sampe pada pengertian yang sesungguhnya. Kalo kita sadar, buku2 yang laris, best seller, bikinan bule2 juga hanya bicara soal bagaimana menyelesaikan PANIK yang timbul sebagai kebodohan kita dalam melihatnya sebagai inti masalah, bukan accessories. Harganya mahal, dan yang baca juga jadi punya gengsi yang tinggi. Ironis juga, kali. Mungkin hal itu akan menjadikan kawanku tadi tersenyum. Mungkin ia geli dengan kita yang bangga karena baca buku "Bagaimana menyelesaikan panik?". Padahal bukan itu intinya. Tapi nda papa. Semua pasti ada gunanya, kata ibuku. Selesaikan panik juga berguna, walaupun memang BUKAN itu inti masalahnya. Karena kita lihat juga, banyak yang masuk rumah sakit gara2 panik. Gara2 "kurang begitu cerdas" memilih mana yang inti dan mana yang accessories. Maaf kawan, sedikit bersemangat, gara2 kata PANIK yang bagus dari mulut kawanku tadi.

Ada lagi yang punya pendapat lain soal solusi. Insya ALLOH akan aku kemas dalam bentuk lain lagi. Kapan2 ya... Makasih lhoh dah mo baca 'artikel' PANIK ini.

Salam buat orang2 yang kalian sayangi.
Jakarta, 27-02-2004

From: muhid syahromi [syahromi@plasa.com]

published by: RaKa Mardika @ 7.3.04

Berbagi rasa, berbagi suka, berbagi ide dan pengalaman

.: is this rha-k's webLOG? :.

Previous post: Mengatasi Rasa Malas atau Penundaan... Boss Baik akan mendapatkan Sekretaris Baik... Mimpi, Solusi, Penyakit... menyikapi banjir... sepakbola di surga... Kejadian Misterius di RSCM... Bola di dalam Kantong Kertas... sekolah itu bernama Ramadhan... istri dambaan... Tak Perlu Ajari Kami Berpuasa...

Archives: 06/01/2003 - 07/01/2003... 07/01/2003 - 08/01/2003... 08/01/2003 - 09/01/2003... 09/01/2003 - 10/01/2003... 10/01/2003 - 11/01/2003... 11/01/2003 - 12/01/2003... 12/01/2003 - 01/01/2004... 01/01/2004 - 02/01/2004... 02/01/2004 - 03/01/2004... 03/01/2004 - 04/01/2004... 04/01/2004 - 05/01/2004... 07/01/2004 - 08/01/2004... 08/01/2004 - 09/01/2004... 09/01/2004 - 10/01/2004... 10/01/2004 - 11/01/2004... 11/01/2004 - 12/01/2004... 12/01/2004 - 01/01/2005... 04/01/2005 - 05/01/2005... 05/01/2005 - 06/01/2005... 12/01/2005 - 01/01/2006... 04/01/2008 - 05/01/2008... 07/01/2010 - 08/01/2010...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang