<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Friday, October 08, 2004

dia ditakdirkan bukan untukmu, kawan!

Aku berlindung pada Tuhan Yang Maha Suci. Puji syukur telah Engkau ciptakan dia, Kau pertemukan aku dengan dia, walaupun Engkau membatasinya hanya untuk sejauh membina persahabatan. Manusia punya keinginan, Engkau yang menentukan ketersediaan kesempatan untuk berusaha, dan kemudian ditetapkanlah pula oleh-Mu, hasil yang terbaik bagi ciptaan-Mu.

Ya, dia cantik, dia jelita, dia manis, senyumnya mempesonaku. Ya, dia lawan jenis yang sempurna, dia layak untuk diperjuangkan, dia layak untuk didapatkan. Hampir semua kawan pria mendekatinya, mencoba mengambil simpati darinya, berusaha agar bisa singgah dalam hatinya, berusaha agar selalu terlintas di dalam pikirannya. Bagi para pengagum rahasia, keinginan, asa dan harapan seperti telah disebutkan mesti terbersit di dalam sanubari. Tak terkecuali aku, dahulu. Ya, asam di gunung, garam di laut, bertemu di dalam sebuah belanga. Begitu pun kami. Berbeda kota, berbeda Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, bertemu di kota yang sama, dalam sebuah Sekolah Menengah Kejuruan yang sama, bahkan pernah setahun berada di kelas yang sama.

Inisial namanya terkenang di dalam ingatanku untuk waktu yang cukup lama, bahkan setelah kami menuntaskan tiga tahun pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan. Entah dia menyadari atau tidak, kami pernah diperdampingkan oleh guru Bimbingan Penyuluhan kami saat penyematan simbolis name tag siswa/i baru, pada acara pembukaan Penataran P4 dan orientasi siswa Sekolah Menengah Kejuruan kami. Waktu itu, irama detak jantungku berdegup kian cepat, karena mesti berjalan seiring kompak dengan seorang anak perempuan yang imut-imut, lucu, cantik, manis, terlihat cerdas dan menawan, walau hanya sekedar menjemput name tag untuk disematkan oleh kepala sekolah. Permasalahan intinya, kami belum saling mengenal, bahkan tahu nama pun hanya sekedar untuk saling sapa saja. Aku sadar bahwa saat itu banyak pasang mata tertuju pada kami berdua, mungkin ada juga kawan pria yang sempat berandai-andai mendapat keberuntungan untuk berdekatan, bersanding, berdiri persis di sebelahnya, berjalan satu irama langkah, untuk disematkan name tag secara simbolis, seperti yang sedang aku alami, waktu itu.

Kelas pun dibagikan, daftar nama diumumkan. Kami ditempatkan di kelas yang terpisah. Mulailah masa orientasi siswa. Masih diwajibkan mengenakan seragam Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama asal masing-masing. Dia begitu supel, ramah, dan mudah bergaul. Para senior kakak kelas pria dominan suka padanya, sementara kebanyakan senior kakak kelas wanita yang kebetulan jumlahnya sedikit dan hanya beberapa orang, juga suka akan parasnya. Dia memang rupawati. Entah dia menyadari atau tidak, setiap kata-kata dan kalimat-kalimat yang terucap dari mulutnya selalu indah terdengar. Aku? Walaupun rupaku rupawan, dan walaupun tutur kataku santun, aku paling tidak suka yang namanya otoriterisme, dengan segala bentuk aplikasinya. Aku tidak suka gagah-gagahan ala senioritas, masa orientasi siswa pun kuhabiskan dengan lebih sering menyendiri. Aku hanya mengikutsertakan diri pada kegiatan yang bersifat kelompok. Buku kumpulan tanda tangan senior kakak kelas pun nyaris kosong melompong tak ada isinya. Aku tidak peduli dengan bualan hukuman dan bermacam sangsi yang di-teror-kan oleh para diktator aji mumpung itu, aku seperti mempunyai keberanian luar biasa untuk mengabaikan segala bentuk ancaman dan bujukan. Sungguh, aku amat tidak suka kekerasan dan perploncoan, aku juga tidak sudi menjadi tontonan dan dipermalukan.

Seperti biasa. Pada hari terakhir, kami para siswa/i baru, dikumpulkan di tanah lapang. Kami semua diperintahkan untuk menunduk, dilarang menegakkan kepala. Diam-diam, sempat kulirik beberapa wajah kawan senasib seperjuangan yang pucat letih, kupikir mesti akibat plonco yang memang melelahkan bahkan mempermalukan itu. Aku tersenyum di dalam hati, ketika kulihat dia yang duduk bersimpuh berjauhan jarak dariku, wajahnya masih bersinar, mencerminkan semangat. Sifat pantang menyerah yang membuatnya bertambah mempesonaku. Mata kami sempat saling beradu tatap untuk sepersekian detik, dan kemudian...

Suasana mendadak diliputi ketegangan. Dengan mengintip diam-diam, kulihat seniorku menarik seorang kawan pria ke depan, membentak dangan nada tinggi, "Siapa suruh lihat-lihat...? Siapa suruh nggak menunduk...? Kamu melawan ya???" Lalu dengan postur ketakutan, kawan pria itu menjawab, "Ampun kak, saya nggak lihat-lihat... Dari tadi saya menunduk koq..." Lalu disusul bentakan bertubi-tubi, "Bohong!!! Kamu melawan YA? Kamu mau jadi jagoan YA?"

Sekitar tiga tahun kami menekuni beragam materi dan bermacam latihan dari guru matematika, guru digital ilmu komputer, guru bahasa inggris, guru agama, guru Customer Service Training Program, guru fisika, guru gambar teknik, guru olahraga dan kesehatan, guru Sejarah Nasional Indonesia dan Dunia, serta beberapa karyawan perusahaan sponsor yang peduli dengan keberadaan sekolah kami. Paralel, dia merintis bisnis, menjual produk kelontong, mungkin terpicu dengan kepergian ayahandanya menghadap Yang Maha Kuasa. Banyak teman-teman pria yang pe-de-ka-te alias pendekatan padanya, namun tak satu pun yang mendapatkan angin segar, tak seorang pun yang sukses lulus seleksi dan menjadi kekasihnya, itu yang aku ketahui. Aku? Aku sibuk sendiri menyelamatkan nilai rapor supaya bisa dibanggakan, bersembunyi sambil mengamati dan menganalisa situasi, hingga tersadarkan oleh keadaan, bahwa situasi telah berubah dengan begitu cepat. Aku terikat kontrak pendidikan untuk tidak menikah selama tiga tahun. Sementara dia, kabar yang kudengar, dia sempat bekerja di pabrik produk elektronik. Sampai kemudian, salah satu perusahaan sponsor memilih dan memanggil dia untuk mengikuti pendidikan sistem ganda. Selepas itu, dia menemukan jalan karir dan sekaligus bertemu jodohnya.

Terima kasih untukmu. Sosok dirimulah yang menemani masa pubertas saya. Sosok dirimulah yang menjadi salah satu hal penting dalam pendewasaan diri saya. Dan walaupun saya bertahan sendirian, namun sungguh berat berusaha mengabaikan sosokmu yang kadung pernah bermarkas di benak saya. Tidak dapat saya sangkal, pernah ada waktu ketika saya menulis kode pemrograman dan desain web, inisial namamu terasa seperti memberi semangat, inspirasi dan motivasi untuk berkarya. Keinginan dan gairah muncul berulang-ulang, keinginan dan gairah untuk menjadi pasangan hidupmu, berdua melukis dunia dengan kebahagiaan, namun selalu saja saya alihkan energi itu menjadi energi kreativitas. Hingga takdir dan ketentuan Tuhan Yang Maha Kuasa menyurutkan niat dan keinginan itu, seperti membentak saya bahwa dia bukanlah diciptakan untuk saya, membisikkan berulang-ulang bahwa saya harus berani menatap dan menghadapi kenyataan, karena kenyataan adalah yang terbaik bagi semua. Teriring salam untuk kakandamu, doa untuk putramu, salam dan doa untukmu, semoga menjadi keluarga bahagia lahir dan batin. Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca tulisan saya.

Labels: , ,

published by: RaKa Mardika @ 8.10.04

2 Comments:
Anonymous Anonymous said...

Ini kisah nyata yah?

Saturday, October 04, 2008 10:55:00 PM  
Blogger rha-k said...

ya begitulah mbakyu.. :)

Thursday, August 27, 2009 4:45:00 PM  

Post a Comment

<< Home

Berbagi rasa, berbagi suka, berbagi ide dan pengalaman

.: is this rha-k's webLOG? :.

Previous post: bukan dua kaki... my participation on ficn 2004... lelaki sejati... hidup baru... Manusia dan Cinta... I hate to feel to be foolished... Belanja Di Toko Kebahagiaan... merdeka(2)... merdeka!!!... Siapakah Jodohku?...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang